Showing posts with label Ramayana. Show all posts
Showing posts with label Ramayana. Show all posts

Motion Graphic Ramayana

Dear Sobat Kunta Wijaya,

Pasti sudah tidak asing dengan kisah Ramayana, kan? Setelah sebelumnya teman-teman dari Komunitas Wayang Kunta Wijaya pernah membuat infografik tentang kisah Ramayana (link), sekarang muncul lah versi lain dari cara penyampaian kisah tersebut. Silakan disimak dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia :))

Oh iya, motion graphic ini merupakan karya artist handal kita, Yofiandhy Dwi Indrayana. Selamat menonton! (link: youtube)



Raden Bharata dari Kisah Ramayana

Hai Fellas Wayangers, salam cinta untuk budaya Nusantara! 

Tulisan kali ini akan membahas mengenai salah satu tokoh yang terdapat di kisah Ramayana, yaitu Bharata. Siapakah Bharata? Nah, sebelum berkenalan lebih dekat dengan Bharata, alangkah baiknya jika Kita mengulang sedikit tentang Wayang itu sendiri. 

Siapa sih yang nggak pernah dengar Wayang? Salah satu yang kita ketahui, wayang yang sangat identik dengan kebudayaan Jawa Kuno. Sebenarnya apakah Wayang itu? Wayang adalah salah satu kebudayaan Nusantara yang berbentuk pertunjukan bayangan boneka diiringi dengan musik gamelan. Tidak hanya berkembang pesat di Jawa dan Bali, namun wayang juga berkembang di Sumatra dan Semenanjung Malaya yang terpengaruh oleh kebudayaan Hindu. 

Kita harus bangga dengan kebudayaan ini, sebab pada tanggal 7 November 2003, budaya Wayang Indonesia menjadi salah satu Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO PBB. Sementara sejarah pasti masuknya Wayang di Indonesia masih belum diketahui hingga sekarang. Namun dalam Prasasti Balitung (Mantyasih) yang berangka 907 M pada masa Kerajaan Mataram Kuno (Medang) pemerintahan Dinasti Sanjaya, ditemukan kata “...galigi mawayang...” yang menurut para ahli berarti sudah ada pertunjukan Wayang pada masa itu.

Kebudayaan Wayang pun diserap oleh berbagai keyakinan agama untuk menyebarkan ajarannya di Tanah Nusantara ini. Contohmya adalah ayang Kulit yang digunakan oleh para Sunan pada masa kerajaan untuk melakukan penyebaran agama Islam di jawa. Selain itu, ada juga Wayang Wahyu bersumber dari Alkitab Katolik, diprakarsai oleh Pastor Timotheus L. Wignyosubroto pada 1960.

Pertunjukan Wayang


Nah, teman-teman sudah cukup paham kan tentang apa itu Wayang? Saatnya Saya menceritakan mengenai salah satu tokoh, Bharata. Di India, terdapat suatu sejarah yang cukup membingungkan. Berdasarkan sumber yang saya dapatkan, nama Bharata muncul baik di kitab Ramayana & Mahabharata serta kitab Wisnupurana. Pada kesempatan kali ini Saya akan bercerita mengenai kehidupan Bharata dari kitab Ramayana.


*

BIODATA BHARATA versi kitab RAMAYANA
Nama : Bharata Wangsa
Dinasti : Suryawangsa
Daerah kekuasaan : Ayodhya dan Takshshila
Ayah : Dasarata (Raja Ayodhya)
Ibu : Kekayi
Istri : Mandawi
Anak : Taksa dan Puskala

BIODATA BHARATA versi kitab WISNUPURANA
Nama : Bharata (dengan nama kecil, Sarwadamana)
Wangsa/Dinasti : Wangsa Chandra
Daerah kekuasaan : Bharatawarsha (Asia Selatan)
Ayah : Duswanta (Raja Kuru)
Ibu : Sakuntala
Istri : Sunandadewi
Anak : Bhumanyu dan Bharadwaja (anak angkat dari Dewa Marudgana)


KELUARGA DAN MASA KECIL
Ayah dari Bharata yang bernama Dasarata, merupakan Raja dari kerajaan Ayodhya. Dasarata memiliki 3 istri, yaitu Dewi Kosalya memiliki putera bernama Rama; Dewi Sumitra memiliki putera kembar bernama Laksmana dan Satrugna; Dewi Kekayi memiliki putera bernama Bharata.

Keempat saudara tersebut saling menyayangi satu sama lain, dimana mereka dididik oleh Resi Wasista. Wasista sendiri merupakan salah satu penulis kitab Weda, serta merupakan leluhur dari Maharesi Wiyasa yang kelak akan menulis kitab Mahabharata. Dalam kitab Ramayana juga menyebutkan bahwa Bharata cenderung dekat dengan Satruga, sementara Rama dekat dengan Laksmana.

MASA PEMBUANGAN RAMA
Inilah susahnya memiliki banyak istri, pasti akan ada kecenderungan untuk saling menjatuhkan. Atas hasutan dari seorang pelayan nan licik, Dewi Kakayi memaksa Dasarata untuk menjadikan puteranya, yaitu Bharata, sebagai penerus takta kerajaan. Walaupun secara adat, Rama sebagai putera dari istri pertama, yang berhak meneruskan takta. Bahkan Dewi Kakayi pun mampu mempengaruhi Dasarata untuk mengusir Rama ke hutan untuk menjalani pengasingan selama 14 tahun, ditemani oleh istri tercinta yaitu Dewi Sinta serta adik yang setia yaitu Laksmana.

Kelakuan tersebut belum diketahui oleh Bharata, yang pada saat itu masih beada di kerjaan pamannya, kerajaan Kakaya yang jauh dari Ayodhya. Atas desakan para menteri Ayodhya yang resah akan kejangalan yang terjadi, serta telah wafatnya Dasarata, maka Bharata pun kembali ke Ayodhya. Namun setibanya di Ayodhya, Bharata mendapati Rama, Dewi Sinta, dan Laksmana sudah meninggalkan kerajaan untuk menjalani pengasingan selama 14 tahun. Karena kejanggalan yang terjadi berada di luar nalar Bharata, atas desakannya, Dewi Kakayi menceritakan semua yang terjadi. Bharata pun murka, dan tidak bersedia menduduki tahta yang seharusnya milik Rama.

Bharata menyusul Rama menuju hutan tempat pengasingan dan menginginkan Rama kembali dan menjadi Raja Ayodhya. Namun Rama menolak, dan berjanji bahwa Rama akan kembali dan menjadi Raja Ayodhya setelah “janji pria sejati” yaitu masa pengasingan selama 14 tahun berakhir. Rama sangat menghormati perintah Ayahandanya, Dasarata. Bharata ditugaskan oleh Rama untuk kembali, dan bersedia memerintah Ayodhya untuk sementara dengan bijaksana. Atas dasar perintah Rama, Bharata dengan hormat bersedia memerintah Ayodhya, dan sandal dari Rama menjadi lambang bahwa Bharata memerintah Ayodhya atas nama Rama.

MASA PEMERINTAHAN BHARATA DI AYODHYA DAN TAKSHSHILA
Selama 14 tahun Bharata memerintah Ayodhya dengan bijaksana. Ayodhya dibawa menjadi kerajaan yang makmur dan sejahtera. Selama pemerintahan itu pula Bharata masih tidak bisa memaafkan tindakan kejam Ibunya, Dewi Kekayi. Walau demikian, namanya juga Ibu sendiri, Bharata tetap memberikan kasih sayang kepada Dewi Kekayi. Namun kepada Dewi Kosalya dan Dewi Sumitra, Bharata lebih menaruh perhatian kepada mereka. Hal ini ditujukan untuk mengurangi kesedihan mereka karena Rama dan Laksmana yang sedang menjalani masa pengasingan di hutan selama 14 tahun.

Sementara dalam rangka memperluas wilayah kekuasaan, Bharata berhasil menaklukkan suku Gandharwa (raksasa) dan mendirikan kerajaan baru dengan nama Takshshila. Konon ibukota Uzbekistan, Tashkent, merupakan wilayah dari Takshshila. Takshshila sendiri meliputi wilayah Pakistan, Afganistan, dan sebagian Asia Tengah.

AKHIR RIWAYAT
Kembalinya Rama dari masa pengasingan, Bharata diangkat menjadi Yuwaraja (Raja Muda / Calon Raja penerus). Pada awalnya, Laksmana lah yang ditunjuk sebagai Yuwaraja karena kesetiannya menemani Rama selama pengasingan. Namun Laksmana menolak dan menunjuk Bharata karena kebajikannya yang sangat luar biasa tinggi serta memakmurkan Ayodhya.

Setelah pemerintahan yang gilang gemilang, Rama memutuskan untuk berhenti memerintah Ayodhya dan memutuskan untuk bertapa. Bharata dan Satrugna pun mengikuti jejak Rama. Pada saat Rama berata di tengah sungai Serayu, Rama berubah wujud menjadi Mahawisnu. Sementara tubuh Bharata dan Satrugna bersatu dengan tubuh Mahawisnu. Yak begitulah kisah singkat Bharata pada kitab Ramayana. Nilai-nilai budi luhur Bharata sangat pantas untuk dicontoh oleh Kita, khususnya Bharata yang tidak haus akan kekuasaan karena cinta kasihnya kepada Rama.

Salam,
Baharudin Taufiq Rizkytata

Kisah Dewi Trijata

Masih ingat kisah cinta segitiga Sri Rama, Dewi Sita, dan Rahwana dalam epos epik berjudul Ramayana?
Merujuk pada artikel sebelumnya mengenai infografik Ramayana, dalam artikel ini penulis ingin mengungkapkan kisah tersembunyi dari Ramayana, yang bukan berasal dari tokoh utama, yang jarang terekspos, namun cukup dapat memberikan pelajaran moral untuk kita para pembaca.
Kisah apa itu?



"Dewi Trijata"


Kisah ini adalah kisah dari Dewi Trijata, yang merupakan seorang perempuan cantik berwatak pemberani dan merupakan putri dari Wibisana, adik dari Rahwana. Dewi Trijata diberi tugas oleh Rahwana untuk menjaga dan melayani Dewi Sita yang saat itu ditahan di Alengka. Dewi Trijata, yang juga adalah seorang wanita, paham betul perasaan Dewi Sita sehingga kemudian Dewi Sita banyak bercerita mengenai kepedihan dan kesedihannya, kerinduannya terhadap suaminya, serta kebenciannya terhadap Rahwana.



“ Dewi Sita dan Dewi Trijata di taman Asoka”



Dewi Trijata selalu mendengarkan dan melayani Dewi Sita dengan sungguh-sungguh, bahkan ia rela menjadi tameng penghalang diantara Dewi Sita dan Rahwana ketika pamannya itu sedang marah karena Dewi Sita terus-menerus menolak ajakannya untuk memadu kasih. Saking marahnya, Rahwana meluncurkan kutukan pada Dewi Trijata bahwa di masa depan ia akan menikah dengan seekor kera tua. Betapa sedihnya Dewi Trijata setelah Rahwana melontarkan kutukan pada dirinya seperti itu, namun kemudian Dewi Sita menghiburnya dengan mengatakan bahwa ia akan memohon kepada Dewata supaya setidaknya anak dari Dewi Trijata nanti akan menikah dengan Raja.

Selain mengenai kutukan, kisah cinta Dewi Trijata bisa dibilang cukup menyedihkan. Kisah cintanya diawali dengan seringnya ia mendengarkan cerita-cerita Dewi Sita tentang kesaktian suaminya Rama, dan kesetiaan dan ketangguhan Laksmana, adik Rama. Dewi Trijata tertarik dengan cerita-cerita Dewi Sita mengenai Laksmana, dan ketertarikan itu berbuah menjadi cinta meskipun ia belum pernah bertemu ataupun mengenal Laksmana secara langsung. Kesempatan untuk bertemu langsung dengan Laksmana datang ketika Dewi Sita meminta tolong pada Dewi Trijata untuk memeriksa kebenaran mengenai berita kematian Rama dan Laksmana yang tersebar di Alengka.

Dewi Trijata menyanggupi permintaan Dewi Sita dan berangkat menuju perkemahan milik pasukan Rama. Setiba di perkemahan, Dewi Trijata bertemu langsung dengan Laksmana dan benar-benar jatuh cinta. Namun, sangat disayangkan Laksmana harus menolak Dewi Trijata karena ia telah bersumpah tidak akan menyentuh wanita. Dewi Trijata yang sangat kecewa memutuskan untuk kembali ke Alengka. Namun, di tengah perjalanan ia bertemu dengan Jembawan yang jatuh cinta pada Dewi Trijata. Jembawan sejatinya adalah manusia setengah kera yang merupakan pengasuh dan pengikut Hanoman. Jembawan sadar dirinya sudah tua dan tidak sesuai dengan perempuan secantik Dewi Trijata, sehingga ia meminta kepada Dewata untuk mengubah penampilannya menjadi mirip dengan Laksmana. Dewi Trijata yang saat itu sedang dirundung kekecewaan hebat terhadap Laksmana, langsung terpikat pada Jembawan tanpa banyak berpikir.
 
Kejadian mengenai adanya Laksmana palsu terdengar oleh Rama sehingga ia mengutus Laksmana adiknya yang asli untuk menyelesaikan masalah tersebut. Singkat cerita, Laksmana asli berhasil menang atas pertarungan dengan Jembawan dan wujud aslinya pun terkuak. Sri Rama yang mengetahui hal itu akhirnya menikahkan Jembawan dengan Dewi Trijata, selain karena Jembawan sangat berjasa dalam perang melawan Alengka, ia juga sungguh-sungguh mencintai Dewi Trijata. Dewi Trijata tersadar bahwa kutukan yang ia dapat dari Rahwana benar-benar terjadi, sehingga meskipun ia tidak benar-benar mencintai Jembawan (karena cintanya pada Laksmana) ia rela menikah dengan Jembawan, yang melahirkan seorang putri jelita bernama Jembawati. Jembawati ini nantinya akan menikah dengan Prabu Kresna, Raja Dwarawati.

Dalam wayang versi Jawa, Dewi Trijata diceritakan jatuh cinta pada Hanoman ketika Hanoman sedang melaksanakan tugas dari Rama untuk melihat keadaan Dewi Sita. Jembawan disini menyamar menjadi Hanoman, namun Dewi Trijata dapat melihat bahwa Jembawan yang menyamar itu bukanlah Hanoman yang sebenarnya. Diceritakan pula, secara tidak sengaja, Hanoman dan Dewi Trijata menciptakan anak yang tidak disadarinya dan bernama Trigangga, dimana nantinya Trigangga membantu Rama dalam perang melawan Alengka.

Sepanjang hidupnya, penulis melihat, Dewi Trijata jarang merasa bahagia. Berbeda dengan Dewi-dewi dan putri-putri raja lainnya, Dewi Trijata hidup di negara yang berisi raksasa-raksasa berwatak menyeramkan. Meskipun demikian, ia dapat memilih jalan hidupnya menjadi seseorang yang baik hati dan pemberani. Kisah cintanya juga tergolong menyedihkan, dimana ia harus rela menjalani hidupnya bersama orang yang tidak benar-benar ia inginkan. Disini sedikit terlihat bahwa perempuan lebih mengutamakan perasaan daripada logika, yaitu saat Dewi Trijata dihadang oleh Jembawan yang menyamar menyerupai Laksmana. Ia tidak berpikir cukup panjang bagaimana mungkin Laksmana yang sudah menolaknya dan bersumpah untuk tidak menyentuh wanita, bisa hadir di hadapannya dan mau berkasih-kasih dengannya. Akibatnya ia harus menikah dengan Jembawan dan memiliki anak bernama Jembawati.

Pesan moral yang paling kuat dari cerita ini adalah, sepanjang kehidupan ini, kita tidak selalu berhasil memperoleh hal-hal yang kita inginkan. Meskipun oleh kita sendiri tampaknya baik, namun belum tentu itu baik di mata yang lain. Ada hal-hal yang tidak bisa kita peroleh semuanya, meskipun sudah bekerja keras. Manusia hanya bisa berencana dan berusaha sebaik yang ia bisa, namun hasil akhirnya hanya Tuhan yang bisa menentukan.

Terimakasih sudah membaca! J


-Pratiwi Wandansari-

Rama vs Laksmana

Rama vs Laksmana? Apakah itu? Salah satu tim liga champion?

Haha.

Bukan.



Mereka adalah salah satu tokoh utama wayang dalam cerita epik 'Ramayana'. Untuk yang belum tahu apa itu Ramayana, kisah ini beritanya tentang perang antara dua negara (Ayodya, tempat asal Rama  dan Alengka, negeri kekuasaan Rahwana). Perang tersebut meletus karena Rama dan Rahwana memperebutkan seorang wanita. Dia adalah istri dari Rama, Dewi Sita atau Shinta. Terlebih, ketika Rahwana mengetahui bahwa Sita adalah titisan Dewi Widowati yang telah lama diincarnya. 

Peperangan itu bermula dari penculikan Sita yang dilakukan oleh Rahwana. Raja angkara murka itu menculik Sita karena doi ingin menggulingkan kekuasaan Rama yang terkenal memiliki banyak kelebihan. Bukan hanya itu, Rahwana ternyata juga berniat merebut Sita dari tangan Rama karena ia tergoda dengan kecantikan dan pembawaan Sita. Begitulah Rama yang marah karena istrinya diculik meminta bantuan kepada bangsa Kera (Wanara) yang dipimpin oleh Sugriwa dan komandornya Hanoman. Singkat cerita, Sita berhasil diselamatkan dengan sukses dan gemilang. 


Agak-agak mirip sama ceritanya Troya ya? Ya... kurang lebih di bagia perebutan wanitanya hingga membuat dua negara besar perang sama. Badaya, kalau di Troya, Helene (perempuan yang diperebutkan) dengan sukarela menyerahkan diri kepada Paris dari Negara Troya. Suami Helene, Menelous dari Yunani, tidak  diterima istrinya diambil, dan tercetuslah perang Troya selama 10 tahun dengan akhir kemenangan di pihak Yunani dan Helene berhasil direbut kembali.

Kembali ke pembahasan Ramayana. Lalu, mana Laksmana?

Dia adalah adik dari Sri Rama, yang ingin dijodohkan oleh saudara dari Sita. Tapi, karena ia sangat setia dengan kakaknya, Laksmana memutuskan untuk mengikuti kemanapun kakaknya pergi, termasuk ketika Rama diasingkan dari kerajaan gegara diusir oleh Dewi Kekayi, salah satu istri kesayangan ayahnya, yang ingin anak kandungnya (Bharata, salah satu adik Rama & Laksmana) untuk menjadi Raja pengganti. 

Kenapa penulis ngefans dengan Laksmana? Begini, Laksmana diceritakan sebagai sosok 'kedua' alias sosok 'bayangan' dari si tokoh besar Rama. Dia memiliki kualitas-kualitas suami idaman yang cukup mirip dengan Rama. Namun, Laksmana masih memiliki sifat-sifat manusiawi yang mengimbanginya. Misalnya, Laksmana cukup gampang naik darah bila ada hal-hal yang melanggar prinsipnya. Ketika Raja mengusir Rama ke hutan gegara diminta sama Dewi Kaikeyi yang tidak setuju Rama menjadi raja pengganti, Laksmana  marah kepada Dewi Kaikeyi karena menurutnya hal tersebut tidak adil untuk Rama. 

Kenapa tidak adil? Karena sebelum Raja dan ketiga istrinya memiliki anak, rupanya sang Dasaratha menjanjikan Kaikeyi untuk menjadikan anak kandungnya (Bharata) sebagai raja pengganti. Berhubung menurut Dasaratha yang paling keren itu Rama, dia ingin mengangkat Rama menjadi raja. Namun, terhalang janji oleh Kaikeyi hingga Rama harus angkat kaki dari Ayodhya. Sementara itu, Laksmana memutuskan untuk ikut dengan Rama dan Sita pergi menuju hutan Dandaka.

Di tengah pengasingan di Hutan Dandaka, Sita melihat kijang kencana. Karena jatuh hati dengan kijang itu, ia meminta Rama untuk menangkapkannya. Laksmana diberi pesan oleh Rama agar tidak meninggalkan Sita, apapun yang terjadi. Namun ketika tiba-tiba terdengar suara teriakan minta tolong, Sita meminta Laksmana untuk mencari Rama. Tentu saja, Laksmana yang sudah diamanahkan untuk menjaga Sita, menolak permintaan kakak iparnya itu. Melihat sikap Laksmana, Sita justru curiga kalau adik iparnya itu menaruh hati padanya dengan membiarkan Rama dalam bahaya. Laksmana membantah kecurigaan Sita dengan berbagai cara, hingga pada akhirnya Laksmana menyerah dan menuruti perkataan Sita. Terakhir diketahui bahwa kijang itu adalah jelmaan dari suruhan Rahwana dan saat mereka lengah, perempuan itupun diboyong oleh raja angkara murka itu ke Negeri Alengka. Ketika Laksmana bertemu dengan Rama yang masih sibuk mencari kijang, Laksmana dimarahi habis-habisan oleh Rama (sumpah kasian banget, bagai makan buah simalakama deh, kesini kena marah kesana kena damprat, ckckck) karena meninggalkan Sita. Kebayang kan perasaan Laksmana di posisi itu? Betapa ngamuknya dia sama Sita dan Rama, hanya karena saking hormatnya, doi tidak berani bicara apapun.


Begitulah Laksmana, penulis merasa wataknya yang gampang naik darah terasa mirip dengan Laksmana, hahaha.

Berbeda dengan Laksmana, sifat Rama dari awal selalu digambarkan bagai manusia dewa yang paling mulia. Tetapi, ternyata di bagian akhir baru lah terlihat watak aslinya Rama yang 'gila' kuasa dan sombong. Tahukah kamu setelah Rama sukses mengalahkan Rahwana, dia bersikap dingin dengan Sita? Taukah kamu bahwa Rama sempat tidak percaya kalo Sita setia dan tidak pernah sekalipun disentuh sama Rahwana? Bahkan, Rama tetap bertampang dingin ketika Sita mengajukan diri untuk dilempar ke api sebagai pembuktian kesucian dirinya? Dari salah satu sumber yang penulis baca, setelah Rama menjadi Raja, dia tidak percaya lagi sama Sita hanya karena rakyatnya tidak mempercayai kalau Sita masih suci, dan Rama mengasingkan Sita ke hutan saat ia sedag hamil. Hal tersebut membuat Sita putus asa dan menenggelamkan dirinya ke dalam bumi sebagai upaya pembuktiannya bahwa dia tidak pernah disentuh oleh lelaki lain selain suaminya.

Begitulah Rama. Dibalik keagungannya (ternyata) tersimpan berbagai hal, yang (menurut penulis) bila ditinjau dari paham supresinya Sigmund Freud, berbagai kekurangan Rama baru keluar setelah tujuan utamanya tercapai. Selama dia masih bukan siapa-siapa, dia 'memendam' segala macam sifat 'adharma' nya dan ketika dia sudah berkuasa keluarlah sifat-sifat jelek yang ga manusiawi.

Jadi, pilih Rama atau Laksmana? 

Penulis sih pilih yang jujur apa adanya daripada yang dipendam-pendam. :p

Terimakasih sudah membaca! :)


-Pratiwi Wandansari-