Rama vs Laksmana

Rama vs Laksmana? Apakah itu? Salah satu tim liga champion?

Haha.

Bukan.



Mereka adalah salah satu tokoh utama wayang dalam cerita epik 'Ramayana'. Untuk yang belum tahu apa itu Ramayana, kisah ini beritanya tentang perang antara dua negara (Ayodya, tempat asal Rama  dan Alengka, negeri kekuasaan Rahwana). Perang tersebut meletus karena Rama dan Rahwana memperebutkan seorang wanita. Dia adalah istri dari Rama, Dewi Sita atau Shinta. Terlebih, ketika Rahwana mengetahui bahwa Sita adalah titisan Dewi Widowati yang telah lama diincarnya. 

Peperangan itu bermula dari penculikan Sita yang dilakukan oleh Rahwana. Raja angkara murka itu menculik Sita karena doi ingin menggulingkan kekuasaan Rama yang terkenal memiliki banyak kelebihan. Bukan hanya itu, Rahwana ternyata juga berniat merebut Sita dari tangan Rama karena ia tergoda dengan kecantikan dan pembawaan Sita. Begitulah Rama yang marah karena istrinya diculik meminta bantuan kepada bangsa Kera (Wanara) yang dipimpin oleh Sugriwa dan komandornya Hanoman. Singkat cerita, Sita berhasil diselamatkan dengan sukses dan gemilang. 


Agak-agak mirip sama ceritanya Troya ya? Ya... kurang lebih di bagia perebutan wanitanya hingga membuat dua negara besar perang sama. Badaya, kalau di Troya, Helene (perempuan yang diperebutkan) dengan sukarela menyerahkan diri kepada Paris dari Negara Troya. Suami Helene, Menelous dari Yunani, tidak  diterima istrinya diambil, dan tercetuslah perang Troya selama 10 tahun dengan akhir kemenangan di pihak Yunani dan Helene berhasil direbut kembali.

Kembali ke pembahasan Ramayana. Lalu, mana Laksmana?

Dia adalah adik dari Sri Rama, yang ingin dijodohkan oleh saudara dari Sita. Tapi, karena ia sangat setia dengan kakaknya, Laksmana memutuskan untuk mengikuti kemanapun kakaknya pergi, termasuk ketika Rama diasingkan dari kerajaan gegara diusir oleh Dewi Kekayi, salah satu istri kesayangan ayahnya, yang ingin anak kandungnya (Bharata, salah satu adik Rama & Laksmana) untuk menjadi Raja pengganti. 

Kenapa penulis ngefans dengan Laksmana? Begini, Laksmana diceritakan sebagai sosok 'kedua' alias sosok 'bayangan' dari si tokoh besar Rama. Dia memiliki kualitas-kualitas suami idaman yang cukup mirip dengan Rama. Namun, Laksmana masih memiliki sifat-sifat manusiawi yang mengimbanginya. Misalnya, Laksmana cukup gampang naik darah bila ada hal-hal yang melanggar prinsipnya. Ketika Raja mengusir Rama ke hutan gegara diminta sama Dewi Kaikeyi yang tidak setuju Rama menjadi raja pengganti, Laksmana  marah kepada Dewi Kaikeyi karena menurutnya hal tersebut tidak adil untuk Rama. 

Kenapa tidak adil? Karena sebelum Raja dan ketiga istrinya memiliki anak, rupanya sang Dasaratha menjanjikan Kaikeyi untuk menjadikan anak kandungnya (Bharata) sebagai raja pengganti. Berhubung menurut Dasaratha yang paling keren itu Rama, dia ingin mengangkat Rama menjadi raja. Namun, terhalang janji oleh Kaikeyi hingga Rama harus angkat kaki dari Ayodhya. Sementara itu, Laksmana memutuskan untuk ikut dengan Rama dan Sita pergi menuju hutan Dandaka.

Di tengah pengasingan di Hutan Dandaka, Sita melihat kijang kencana. Karena jatuh hati dengan kijang itu, ia meminta Rama untuk menangkapkannya. Laksmana diberi pesan oleh Rama agar tidak meninggalkan Sita, apapun yang terjadi. Namun ketika tiba-tiba terdengar suara teriakan minta tolong, Sita meminta Laksmana untuk mencari Rama. Tentu saja, Laksmana yang sudah diamanahkan untuk menjaga Sita, menolak permintaan kakak iparnya itu. Melihat sikap Laksmana, Sita justru curiga kalau adik iparnya itu menaruh hati padanya dengan membiarkan Rama dalam bahaya. Laksmana membantah kecurigaan Sita dengan berbagai cara, hingga pada akhirnya Laksmana menyerah dan menuruti perkataan Sita. Terakhir diketahui bahwa kijang itu adalah jelmaan dari suruhan Rahwana dan saat mereka lengah, perempuan itupun diboyong oleh raja angkara murka itu ke Negeri Alengka. Ketika Laksmana bertemu dengan Rama yang masih sibuk mencari kijang, Laksmana dimarahi habis-habisan oleh Rama (sumpah kasian banget, bagai makan buah simalakama deh, kesini kena marah kesana kena damprat, ckckck) karena meninggalkan Sita. Kebayang kan perasaan Laksmana di posisi itu? Betapa ngamuknya dia sama Sita dan Rama, hanya karena saking hormatnya, doi tidak berani bicara apapun.


Begitulah Laksmana, penulis merasa wataknya yang gampang naik darah terasa mirip dengan Laksmana, hahaha.

Berbeda dengan Laksmana, sifat Rama dari awal selalu digambarkan bagai manusia dewa yang paling mulia. Tetapi, ternyata di bagian akhir baru lah terlihat watak aslinya Rama yang 'gila' kuasa dan sombong. Tahukah kamu setelah Rama sukses mengalahkan Rahwana, dia bersikap dingin dengan Sita? Taukah kamu bahwa Rama sempat tidak percaya kalo Sita setia dan tidak pernah sekalipun disentuh sama Rahwana? Bahkan, Rama tetap bertampang dingin ketika Sita mengajukan diri untuk dilempar ke api sebagai pembuktian kesucian dirinya? Dari salah satu sumber yang penulis baca, setelah Rama menjadi Raja, dia tidak percaya lagi sama Sita hanya karena rakyatnya tidak mempercayai kalau Sita masih suci, dan Rama mengasingkan Sita ke hutan saat ia sedag hamil. Hal tersebut membuat Sita putus asa dan menenggelamkan dirinya ke dalam bumi sebagai upaya pembuktiannya bahwa dia tidak pernah disentuh oleh lelaki lain selain suaminya.

Begitulah Rama. Dibalik keagungannya (ternyata) tersimpan berbagai hal, yang (menurut penulis) bila ditinjau dari paham supresinya Sigmund Freud, berbagai kekurangan Rama baru keluar setelah tujuan utamanya tercapai. Selama dia masih bukan siapa-siapa, dia 'memendam' segala macam sifat 'adharma' nya dan ketika dia sudah berkuasa keluarlah sifat-sifat jelek yang ga manusiawi.

Jadi, pilih Rama atau Laksmana? 

Penulis sih pilih yang jujur apa adanya daripada yang dipendam-pendam. :p

Terimakasih sudah membaca! :)


-Pratiwi Wandansari-

Arjun: The Warrior Prince (Review Film)

Arjun: The Warrior Prince mengisahkan tentang perjalanan Arjuna dalam menjadi seorang ksatria yang sesungguhnya.  Untuk mencapai mimpinya itu, Arjuna dan keempat saudaranya mengalami berbagai macam kejadian yang mendewasakan dan menguatkan mereka. Mulai dari pengajaran yang diberikan oleh Drona, pengembaraan sebagai brahmana, pertapaan di puncak Himalaya, serta pengasingan selama 13 tahun akibat perjudian Yudistira dengan Duryudana dari pihak Kurawa. Film yang ditayangkan pada tahun 2012 di India ini fokus menyorot pada perselisihan antara Pandawa dan Kurawa sebagai penerus tahta kerajaan Hastinapura. Tentu saja, dalam film ini Arjuna lah yang menjadi tokoh sentralnya.
 
Setidaknya, menurut saya ada beberapa hal yang menjadikan film ini layak tonton bagi para penikmat kisah Mahabharata. Pertama, penyampaian cerita yang menarik dengan sentuhan teknik animasi modern studio Walt Disney dan UTV Motion Pictures. Berbeda dengan film-flim animasi produksi India yang pernah ada sebelumnya, film ini berusaha menggabungkan teknik animasi 2D dengan 3D dengan begitu halus. Hal inilah yang menjadi salah satu kelebihan animasi ini. Selain itu, film ini juga menyajikan penyampaian narasi dengan cara yang unik, namun mudah dipahami tanpa menghilangkan esensi dan daya tarik dari kisah Mahabharata. Selain itu, film ini juga dapat dinikmati bagi semua usia, tidak terbatas pada anak kecil ataupun orang dewasa saja.

Meskipun begitu, film Arjun: The Warrior Prince akan nampak sedikit membingungkan bagi mereka yang belum mengenal kisah Mahabharata sama sekali. Mengapa? Karena ada beberapa detil cerita yang terlewatkan, khususnya penjelasan mengenai tokoh-tokoh yang muncul dalam film tersebut. Tambahan pula, film ini tidak mampu menghadirkan kisah Mahabharata secara utuh dan lengkap. Meringkas kisah Mahabarata yang begitu kompleks menjadi sebuah film yang berdurasi sekitar 90 menit memang merupakan pekerjaan besar tersendiri yang sulit dilakukan dengan baik.

Kesimpulannya, secara umum film ini merupakan sebuah karya modern yang layak tonton bagi siapa saja. Dengan mengabaikan detil cerita yang terlewatkan, kita tetap dapat menikmati perjalanan hidup Arjuna dan keempat saudaranya melalui animasi yang digarap dengan cukup baik. Meski bukan sebuah karya yang sempurna, film ini dapat menjadi rekomendasi bagi mereka yang tertarik pada kisah pewayangan Mahabharata. Jadi, selamat menonton! J
 
 
 
- Atha Rasyadi -

Pertemuan Perdana: Museum Wayang

Berdirinya "Komunitas Wayang Kunta Wijaya" diawali dengan berkumpulnya kami yang memiliki ketertarikan yang sama terhadap kebudayaan wayang  di sebuah grup messenger. Melalui wadah virtual tersebut, kami berbagi cerita dan pengetahuan dengan membahas sedikit hal mengenai kisah pewayangan. Tidak puas berdiskusi melalui grup virtual, kami pun merencanakan pertemuan perdana. 

Pada tanggal 21 September 2013 kemarin, pertemuan perdana kami dilakukan di Museum Wayang, Kota Tua. Tanggal tersebut sekaligus kami tetapkan sebagai hari lahirnya komunitas wayang kami. Sayangnya, tidak semua anggota kami dapat hadir.Acara ini diikuti oleh enam orang anggota komunitas kami yang tidak semuanya pernah bertemu dan saling mengenal sebelumnya. Meskipun belum banyak yang bisa hadir dalam pertemuan perdana kami, namun acara kumpul santai tersebut berjalan dengan seru.

Setelah saling berkenalan, kami melanjutkan kegiatan acara dengan berkeliling Museum Wayang yang didirikan pada tahun 1640 dengan nama asli De Oude Hollandsche Kerk (Gereka Lama Belanda). Setelah mengalami perombakan beberapa kali, bangunan tersebut akhirnya diresmikan sebagai museum pada 13 Agustus 1975 oleh Gubernur DKI Jakarta pada saat itu, Bang Ali Sadikin. Berbagai macam wayang nusantara dan mancanegara dipamerkan di museum ini. Banyak dari wayang-wayang tersebut dipamerkan berdasarkan lakon yang ada dalam kisah pewayangan ataupun yang biasa disampaikan oleh para dalang saat pertunjukkan wayang. 


Di dalam museum, kami menelusuri setiap ruangan dan mendapati begitu banyak variasi dari wayang yang tidak kami kenal, sekaligus saling berbagi cerita mengenai kisah wayang-wayang yang dipamerkan tersebut. Kami juga sempat berdiskusi dengan seorang pegawai museum wayang perihal kisah wayang dari India dan perbedaannya dengan kisah wayang dari india. Tidak hanya itu, kami juga mendapati wayang yang berasal dari luar negeri, seperti wayang Cina, Malaysia, bahkan dari Italia. Hal ini menjadi sesuatu yang menarik dari museum ini, karena seperti memberikan komparasi terhadap wayang kita dan perbedaan budaya yang ada membuat bentuk wayang di berbagai Negara berbeda satu sama lainnya.

Setelah puas keliling museum, kami pun singgah di sebuah tempat makan di daerah Taman Fatahillah untuk makan siang. Sembari menikmati makanan, kami juga berdiskusi mengenai bagaimana cara menyebarkan kisah-kisah pewayangan kepada masyarakat, khususnya anak muda agar lebih menarik dan mudah diterima. Berbagai ide muncul, seperti membuat permainan kartu yang bertemakan wayang, membuat dongeng bertemakan wayang untuk anak-anak, menulis di blog, hingga merencanakan kunjungan-kunjungan ke pementasan wayang. 

Terakhir, tidak lupa kami juga bertukar pikiran mengenai nama untuk komunitas tercinta kami ini, hingga ditetapkanlah nama "Komunitas Wayang Kunta Wijaya". Nama komunitas ini diambil dari nama pusaka yang diceritakan dalam kisah Mahabharata, yang dimiliki oleh Adipati Karna. Pusaka yang tidak dapat dipungkiri kehebatannya, hingga siapapun yang terkena pusaka itu akan mati seketika. Dalam perang Bharatayudha dikisahkan Gatotkhaca gugur oleh pusaka Kunta Wijaya yang dilepaskan oleh Adipati Karna. 

Kami sedang berusaha agar komunitas ini semakin hidup. Semoga apa yang ingin kami capai melalui Komunitas Wayang Kunta Wijaya kedepannya dapat terwujud melalui berbagai kegiatan, seperti gathering, diskusi, tulisan, dan lainnya. Oleh karena itu, untuk kamu yang tertarik dengan wayang dan ingin membantu menyebarkannya, jangan ragu untuk ikutan komunitas kami, ya. Salam! :)


-Triawan Susetyo -